Panduan Lengkap 5 Rukun Khutbah Jumat: Jangan Sampai Ditinggalkan Agar Sah!
Khutbah Jumat bukanlah sekadar pidato, orasi, atau ceramah biasa. Di dalamnya terdapat aturan syariat yang ketat. Sehebat apa pun retorika seorang khatib, jika ada satu rukun saja yang terlewat, maka khutbah tersebut batal, dan berimbas pada tidak sahnya shalat Jumat seluruh jemaah.
Mayoritas umat Islam di Indonesia menganut mazhab Syafi'i. Dalam mazhab ini, rukun khutbah Jumat ada 5 (lima) dan kesemuanya wajib diucapkan dalam bahasa Arab, meskipun isi materi khutbahnya disampaikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah.
Bagi Anda yang ditugaskan menjadi khatib, sangat penting untuk menyusun naskah yang secara sadar memasukkan kelima elemen ini. Mari kita bedah satu per satu kelima rukun tersebut.
1Memuji Allah (Hamdalah)
Rukun yang pertama adalah mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT. Rukun ini wajib ada di khutbah pertama maupun khutbah kedua.
Syarat sahnya adalah harus memuat akar kata "Hamd" (pujian) dan lafadz "Allah". Anda tidak boleh menggantinya dengan nama-nama Allah yang lain (Asmaul Husna) seperti "Alhamdulillah wa Syukrulillah" diganti menjadi "As-Syukru lirrahman".
2Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW
Rukun yang kedua adalah membaca shalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW, dan ini juga wajib dibaca pada kedua khutbah (khutbah pertama dan kedua).
Shalawat ini harus menyebutkan nama nabi (Muhammad) atau gelar beliau (Rasul atau Nabi). Tidak sah jika hanya menggunakan kata ganti (dhamir) meskipun merujuk kepada Nabi.
3Berwasiat untuk Bertakwa (Wasiat Takwa)
Tujuan utama dari khutbah adalah mengingatkan jemaah kepada Allah. Oleh karena itu, wajib bagi khatib untuk mengajak audiens bertakwa (wasiat takwa) di kedua khutbah.
Tidak ada redaksi khusus yang mengikat, asalkan mengandung ajakan untuk taat kepada Allah atau menjauhi maksiat. Namun, untuk kehati-hatian, para ulama menyarankan agar selalu menggunakan kata yang memiliki akar kata "Taqwa".
Takut Khutbah Tidak Sah Karena Rukun Tertinggal?
Menyusun naskah sendiri sering kali membuat kita lupa memasukkan lafadz rukun khutbah dengan tepat. Dengan MimbarPro, AI kami akan secara otomatis memastikan kelima rukun khutbah berbahasa Arab tersebut tertata sempurna di mukadimah dan penutup.
- Naskah 100% Sah sesuai standar Mazhab Syafi'i.
- Tulisan Arab Rukun lengkap dengan harakat.
- Cukup klik, naskah siap dalam hitungan detik.
✨ Dapatkan 2 Kredit Gratis untuk Pengguna Baru
4Membaca Ayat Suci Al-Qur'an
Berbeda dengan ketiga rukun sebelumnya yang harus ada di kedua khutbah, membaca ayat Al-Qur'an ini cukup dilakukan di salah satu khutbah saja (boleh di khutbah pertama, boleh di khutbah kedua). Namun, afdhalnya dibaca pada akhir khutbah pertama.
Ayat yang dibaca haruslah ayat yang memiliki makna yang dapat dipahami, bukan sekadar potongan huruf muqaththa'ah (seperti "Alif Laam Miim").
5Berdoa untuk Kaum Muslimin
Rukun yang terakhir adalah memanjatkan doa, memohon ampunan untuk kaum mukminin dan mukminat. Rukun ini wajib dilakukan khusus di khutbah kedua.
Doa yang dipanjatkan harus bernuansa ukhrawi (akhirat) seperti memohon ampunan dosa atau rahmat. Doa ini dibaca menjelang akhir khutbah sebelum iqamah dikumandangkan.
"Allahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat, wal mu'miniina wal mu'minaat, al-ahyaai minhum wal amwaat."
Syarat Tambahan yang Kerap Dilupakan
Selain 5 rukun di atas, khatib juga harus memperhatikan syarat sahnya. Jika syarat ini dilanggar, rukun di atas menjadi gugur:
- Suci: Khatib harus suci dari hadas kecil dan besar, serta pakaiannya bersih dari najis (sama seperti syarat shalat).
- Berdiri: Khutbah harus disampaikan sambil berdiri bagi yang mampu. Di antara dua khutbah, khatib diwajibkan duduk sebentar (thuma'ninah).
- Muwalah (Berkesinambungan): Tidak boleh ada jeda yang terlalu lama antara khutbah pertama, khutbah kedua, dan pelaksanaan shalat Jumat.
Kesimpulan
Mengetahui dan mengamalkan rukun khutbah adalah wajib hukumnya bagi setiap khatib. Jika Anda masih merasa kesulitan menghafal urutannya, jangan malu untuk membawa teks atau catatan kecil ke atas mimbar. Lebih baik membaca teks namun khutbahnya sah, daripada tampil tanpa teks namun ada rukun yang tertinggal.
Pastikan Anda mencetak naskah khutbah yang strukturnya sudah memenuhi semua rukun di atas. Semoga dengan persiapan yang sesuai sunnah, amal ibadah kita diterima di sisi Allah SWT.